Pendidikan vs MBG: Ketika Perut Kenyang Tapi Logika Masih Berjuang
Dunia pendidikan sering dijadikan panggung utama untuk berbagai program besar. Mulai dari perubahan kurikulum, aplikasi ini itu, sampai program MBG yang ramai dibahas ke mana-mana. Katanya demi masa depan generasi muda. Katanya demi anak bangsa. Katanya.
Masalahnya, kadang yang paling sering berubah justru bungkusnya, bukan isi utamanya.
Di satu sisi, pendidikan selalu diminta menghasilkan siswa kreatif, kritis, inovatif, siap kerja, siap kuliah, siap menghadapi AI, siap menghadapi dunia global, bahkan siap menghadapi hidup yang makin mahal. Tapi di sisi lain, banyak sekolah masih sibuk dengan masalah klasik: internet lemot, proyektor rebutan, laboratorium seadanya, sampai guru yang harus jadi multitasking level dewa.
Lalu datanglah MBG dengan segala kemeriahannya.
Poster bertebaran. Dokumentasi ramai. Kamera aktif. Komentar netizen pun terbagi dua: ada yang mendukung, ada yang bingung sebenarnya prioritas utamanya apa.
Karena jujur saja, kadang masyarakat melihatnya seperti ini:
"Anak memang butuh makan bergizi. Tapi kalau kualitas pendidikannya masih tertinggal, nanti yang kenyang cuma perutnya, bukan masa depannya."
Kalimat itu terdengar pedas, tapi ada benarnya juga.
Pendidikan itu investasi jangka panjang. Hasilnya memang tidak langsung viral dalam seminggu. Tidak langsung menghasilkan tepuk tangan instan. Tapi dampaknya bisa terasa puluhan tahun.
Bayangkan kalau perhatian terhadap pendidikan benar-benar selevel dengan perhatian terhadap program-program yang viral di media sosial.
Guru dipermudah, bukan dipusingkan administrasi.
Sekolah diperbaiki merata, bukan hanya yang sering masuk kamera.
Siswa diajarkan berpikir kritis, bukan sekadar mengejar angka.
Infrastruktur digital diperkuat, bukan cuma slogan transformasi digital.
Karena realitanya sekarang, banyak siswa lebih hafal template konten TikTok dibanding cara menyusun argumen yang baik.
Dan ironisnya, kadang sekolah juga ikut sibuk mengejar pencitraan.
Asal feed rapi. Asal kegiatan ramai. Asal dokumentasi lengkap.
Padahal kualitas pendidikan tidak bisa diukur dari seberapa estetik postingan Instagram sekolah.
MBG sendiri sebenarnya bukan ide buruk. Anak sekolah memang perlu asupan gizi yang baik. Fokus belajar jelas dipengaruhi kondisi fisik. Itu fakta.
Tapi masyarakat juga berhak bertanya:
"Setelah makan gratis selesai, apakah kualitas pendidikan ikut naik?"
Karena kalau jawabannya belum jelas, wajar kalau muncul kritik.
Lucunya lagi, pendidikan sering disebut prioritas utama. Tapi setiap kali guru mengeluh soal fasilitas, sistem, atau kesejahteraan, jawabannya hampir selalu sama:
"Harap bersabar."
Entah sudah berapa generasi yang diminta bersabar.
Padahal negara maju bukan lahir dari slogan semata. Mereka kuat karena pendidikan dibangun serius, konsisten, dan tidak hanya fokus pada hal-hal yang mudah dipromosikan.
Akhirnya, masyarakat hanya berharap satu hal sederhana:
Kalau memang ingin membangun generasi emas, jangan cuma pastikan siswa kenyang saat di sekolah. Pastikan juga mereka pulang membawa ilmu, kemampuan berpikir, dan masa depan yang benar-benar layak diperjuangkan.
Karena perut kenyang itu penting.
Tapi pendidikan yang berkualitas jauh lebih menentukan arah hidup seseorang.
Dan semoga suatu hari nanti, dunia pendidikan tidak lagi dijadikan proyek musiman yang ramai saat kamera menyala, lalu perlahan sepi ketika perhatian publik berpindah.

Komentar
Posting Komentar
silahkan berkomentar dengan santun